JAKARTA – Indonesia kini tengah menuju ke arah implementasi kendaraan elektrifikasi atau kendaraan rendah emisi atau nol emisi seperti kendaraan listrik.

Baik pemerintah yang mengatur regulasi hingga para pemain industri otomotif juga sudah memulai langkah awal menyambut era elektrifikasi tersebut.

Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak tantangan dan kendala yang menghambat impelentasi kendaraan listrik di Indonesia saat ini.

Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hari Setiapraja membeberkan beberapa kendala yang ada.

Misalnya antara lain kecukupan suplai listrik, ketersediaan charging station, teknologi baterai, regulasi teknis dan keuangan, pengolahan limbah baterai dan sistem recycle, ketersediaan industri komponen, serta keberlanjutkan ekosistem kendaraan listrik.

Baca juga :  Suzuki Baleno Bukukan Penjualan Positif di Penghujung Tahun 2019

Meski demikian, jika harus mengklasifikasikan kendaraan listrik, jenis kendaraan roda dua atau sepeda motor listrik jauh lebih masuk akal untuk dilakukan percepatan dibandingkan dengan mobil listrik.

Baca juga: Harga Baterai, Faktor Penentu Implementasi Kendaraan Listrik

Dari sisi harga, sepeda motor listrik masih dalam kategori terjangkau untuk dimiliki konsumen, sedangkan untuk mobil listrik dengan harga Rp600 juta ke atas hanya bisa dimiliki oleh kalangan atas. Belum lagi kebutuhan kapasitas listrik rumahan yang bleum memadai untuk mengecas mobil listrik.

“Terkait dengan insentif, kalau untuk motor (listrik) masih bisa, tapi kalau mobil agak sulit karena untuk chargingnya aja untuk dirumah itu bukan kapasitas biasa, minimal 2000 Watt. Kalau ingin realistis, yang siap itu sepeda motor,” kata Hari dalam acara diskusi virtual bersama Forum Wartawan Otomotif (Forwot), Kamis (26/22/2020).

Baca juga :  Mobil Listrik DFSK Gelora E Sudah Bisa Dipesan di IIMS 2021, Segini Harganya

Senada dengan Hari, Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Riyanto juga sepakat kalau sepeda motor listrik jauh lebih memungkinkan untuk percepatan dibandingkan mobil listrik.

“Sepeda motor listrik memang lebih siap, karena infrastrukturnya tidak serumit mobil listrik.”

“Ada banyak skema untuk motor listrik, misalnya baterainya tidak perlu dimiliki konsumen. Bisa dengan sistem swab atau sewa aja. Jadi baterainya tidak dibebankan kepada konsumen. Karena itu untuk roda dua penetrasinya lebih mudah dibandingkan mobil listrik,” beber Riyanto.

Fenomena berbeda memang jelas terlihat untuk pergerakan mobil listrik. Di Indonesia, kecenderungan saat ini sangat sedikit orang yang mau beralih langsung ke mobil full electric berbasis baterai.

Baca juga :  MG ZS EV Sapa Indonesia di Rangkaian Aktivitas Mall Exhibitions

Mereka lebih banyak memilih jenis-jenis kendaraan low emisi seperti hybrid dan plug in hybrid. Hal ini dikarenakan masih minimnya fasilitas charging station, sehingga dengan plug in hybrid konsumen masih mendapat dua opsi sumber tenaga mobil. Jika baterai habis, maka mobil masih bisa berjalan dengan mesin konvensional. [po/rst]