JAKARTA – Pandemi Covid-19 memang sangat berdampak dalam hal perekonomian. Bahkan nyaris semua sektor industri mendapat pukulan telak akibat pandemi Covid-19.

Tidak terkecuali sektor industri otomotif yang juga terdampak akibat pandemi. Fakta yang ada, sejak awal tahun 2020 sektor industri otomotif tanah air memang babak belur, baik dari sisi produksi hingga penjualan.

Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan bahwa sektor otomotif memang sangat sensitif terhadap fenomena global, termasuk situasi pandemi yang sedang dan masih berlangsung.

“Sektor otomotif memang sangat sensitif. Dulu juga berpengaruh ketika ada peningkatan harga fuel sekitar tahun 2006, itu industri otomotif juga turun. Catatan positif kembali terjadi saat adanya LCGC (Low Cost Green Car), itu produksi meningkat. Tapi ketika krisis moneter 2015, penjualan mobil mengalami penurunan sekitar 15 persen. Dan untuk Covid-19 terjadi secara global dan industri otomotif ada penurunan hampir 50 persen,” kata Taufiek Bawazier dalam sesi diskusi virtual bersama Forum Wartawan Otomotif (Forwot), Kamis (12/11/2020).

Baca juga :  Suzuki Edukasi Siswa SD di Bali Melalui 'Clean Up The World'

Taufiek menambahkan, periode terparah untuk sektor otomotif Indonesia terjadi di kuartal kedua 2020. Meski begitu, memasuki akhir tahun 2020 kondisinya sudah semakin membaik.

Adapun yang menjadi ‘Pekerjaan Rumah’ bersama adalah bagaimana mengembalikan kondisi kembali normal. “Kuartal kedua terparah, sekarang ini sektor otomotif udah tumbuh tinggal bagaimana caranya kita kembalikan ke kondisi normal,” lanjut Taufiek.

Formula kebijakan

Dirjen Ilmate bersama pemerintah dengan tegas menyatakan komitmennya dalam mengembalikan geliat industri otomotif tanah air. Karena itu, dengan kondisi ‘challenging’ seperti saat ini, perlu adanya formula kebijakan yang tepat dan efektif.

Baca juga :  Kemenperin Fasilitasi Industri Pelumas Melalui Pameran Industri 4.0

Taufiek Bawazier menjelaskan bahwa salah satu model kebijakan yang dinilai cukup efektif adalah mencoba menghadirkan stimulus agar konsumen tetap mau membeli kendaraan baru.

“Kita ingin konsumen yang punya uang tetap membelanjakan uangnya (membeli kendaraan). Kekuatan konsumen untuk membeli itu juga penting dan kita perlu instrumen ke arah situ. Makanya kita arah kebijakan yang tadinya ke industrinya sekarang ke konsumennya,” beber Taufiek.

Hal ini dapat dilihat dari upaya Kemenperin lewat beberapa instrumen seperti relaksasi pajak hingga usulan pajak nol persen meskipun pada akhirnya ditolak oleh Kementerian Keuangan.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Gaikindo, Kukuh Kumara juga mengapresiasi upaya Kemenperin dalam mengembalikan geliat industri otomotif. Menurutnya selain usulan pajak nol persen upaya lain akan terus dikaji.

Baca juga :  Kick Off GIICOMVEC 2020, Janjikan Konten Komprehensif

“Dari kacamata Kemenperin ini adalah salah satu upaya meningkatkan sektor otomotif. Kita sih menunggu mudah-mudahan ada upaya lain yang mempercepat pulihnya industri kendaraan bermotor. Peluang itu ada,” tegas Kukuh.

Sejauh ini, berdasarkan data dari Mei dan Juni mulai terlihat indikasi peningkatan. “Dan bulan Oktober ini juga terus terjadi peningkatan dari sisi penjualan kendaraan. Di sisi lain ada indikasi ekspor tetap jalan walaupun tidak sebaik kondisi normal,” tutup Kukuh. [po/rst]