JAKARTA – Himbauan untuk tetap tinggal dirumah dan bekerja dari rumah sejak merebaknya pandemi Covid-19 membuat masyarakat pun harus rela untuk tidak beraktifitas keluar rumah.

Hal ini membuat jalanan ibukota sepi dan lengang. Jalanan sepi memang menjadi pemandangan langka bagi masyarakat perkotaan seperti di Jakarta. Hal ini membuat pengendara bisa leluasa untuk memacu kecepatan karena menganggap jalanan yang kosong aman buat ngebut.

Faktanya, stigma seperti ini sepenuhnya salah. Founder dan Direktur Safety Defensive Consulting Indonesia (SDCI), Sony Susmana menjelaskan justru semakin sepi jalanan maka semakin besar bahaya yang mengancam.

Baca juga :  Dorna Siap Bantu Finansial Tim MotoGP Selama Masa Pandemi Covid-19

“Hilangkan stigma jalan sepi berarti kondisi aman, justru sebaliknya. Semakin sepi harus makin waspada karena banyak yang berfikiran sama pada umumnya. Banyak yang ngebut dengan alasan macam-macam, banyak juga yang belajar nyetir, dan lain-lain,” kata Sony.

Artinya, hampir semua orang memiliki pola pikir sama. Sehingga realitasnya kondisi jalanan memang sepi, namun semua penggunanya melaju kencang tanpa mempertimbangkan beragam faktor yang bisa terjadi. Ujung-ujungnya ya celaka juga.

Baca juga :  Safety Campaign Award Adira 2019 CBR TAC Keluar Sebagai Sang Juara

“Yang perlu diingat bahwa kita tidak bisa memilih kecelakaan di jalan raya, dari yang minim cidera sampai dengan yang fatal bisa terjadi. Artinya ketika kita sudah berada di jalan, baik itu dengan atau tanpa kendaraan maka kita sudah harus terima resiko cidera akibat kecelakaan. Sebagai pengemudi/pengendara dituntut untuk paham tentang keselamatan tapi bukan berarti yakin terhindar dari kecelakaaan, karena pemahaman safety pada dasarnya hanya bisa menekan resiko cidera/celaka,” beber Sony. [po/rst]