JAKARTA – Sejak beberapa tahun terakhir, industri otomotif Indonesia sudah memulai fase menuju era kendaraan listrik.

Hal ini terbukti dengan kehadiran beragam jenis kendaraan elektrifikasi yang diboyong oleh beberapa pabrikan otomotif, mulai dari jenis Hybrid, Plug in Hybrid, hingga mobil listrik berbasis baterai (BEV).

Namun, hingga saat ini masih terdapat banyak kendala ataupun tantangan dalam hal implementasi kendaraan listrik.

Selain harga yang masih terlalu mahal, kesiapan Indonesia dari sisi infrastruktur kendaraan listrik juga dinilai belum memadai sehingga membuat konsumen atau masyarakat memiliki keyakinan kuat untuk membeli kendaraan listrik. Padahal pemerintah sudah melahirkan berbagai macam insentif untuk jenis kendaraan hybrid hingga mobil listrik baterai.

Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Riyanto menjelaskan bahwa ada banyak tantangan terkait dengan impelentasi kendaraan listrik.

“Satu harganya mahal. Kalau harga mahal seharusnya biaya operasional (biaya kepemilikan) jangka panjang harus lebih murah. Dan faktor non price seperti ekosistem dan fasilitas charging station itu juga berpengaruh,” kata Riyanto dalam acara diskusi virtual bersama Forum Wartawan Otomotif (Forwot), Kamis (26/22/2020).

Riyanto menambahkan bahwa dari sisi regulasi yang dirancang pemerintah, pada dasarnya sudah menjamin lahirnya ekosistem dan infrastruktur, namun tentunya hal itu tidak bisa meyakinkan publik karena belum terlihat fakta riil nya di lapangan.

Tak hanya itu, Riyanto juga menilai idealnya kebijakan pemerintah juga harus memberikan dampak dalam menambah value dan menekan biaya kepemilikan kendaraan listrik.

“Mungkin juga perlu kebijakan lain, misal ada subsidi biaya listrik, bebas ganjil genap, dan lain-lain,” lanjutnya.

Menunggu harga baterai dijual murah

Seperti yang kita tahu, salah satu komponen yang membuat mobil listrik begitu mahal adalah komponen baterai.

Oleh karena itu, implementasi kendaraan listrik akan sangat mungkin untuk terealisasi jika harga baterai juga semakin terjangkau.

Riyanto menjelaskan data yang ada, dari tahun ke tahun memang ada tren yang menunjukkan penurunan harga baterai, dan ini berlaku di setiap negara.

“Asumsi kita harga baterai terus menurun dari tahun ke tahun. Jika tercapai di 2030 baterai ini mulai murah atau separuh dari harga sekarang, maka mobil listrik ini akan indah pada waktunya.”

“Jadi penjualan mobil listrik akan beriringan dengan penurunan harga baterai karena sejauh ini harga baterai itu bisa setengah dari harga mobil listrik itu sendiri,” beber Riyanto.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hari Setiapraja juga sepakat dengan hal tersebut.

Hanya saja, Hari menekankan Indonesia harus memiliki manajemen limbah baterai di masa yang akan datang.

“Terkait dengan limbah, memang ada bagian (baterai) yang bisa di-recycle, tapi ada beberapa bagian lain yang harus dibuang. Karena itu harus ada manajemen limbah baterai,” terangnya. [po/rst]