SERPONG – Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi (MASKEEI) menggelar diskusi yang bertemakan Prospek dan Tantangan kendaraan Listrik di Indonesia, Rabu (30/1) di Audiorium Sinar Mas Land GOP 9, BSD City.

Diskusi ini kali ini terbilang cukup komprehensif karena mengundang para stakeholder yang menjadi pembicara. Mulai dari perwakilan Gaikindo, PLN, hingga perwakilan Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian.

Tak hanya itu hadir pula guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Satryo S Brodjonegoro yang kali ini bertindak sebagai Penasihat khusus menko Maritim yang bertugas mengharmonisasikan berbagai kepentingan dalam proses penyiapan kebijakan pemerintah tentang EV.

Dalam sambutan awal, RM Soedjono selaku Chairman of MASKEEI mengatakan pihaknya menyambut baik kebijakan pemerintah dalam pemantapan kendaraan listrik.

“Penting rasanya kita memperhatikan stok energi untuk kepentingan nasional. Sektor transportasi ini adalah sektor dengan pemanfaatan energi yang begitu besar. Kami menyambut baik rencana pemantapan kendaraan listrik. Karena itu dalam diskusi ini kami (MASKEEI) melibatkan para pemangku kepentingan di bidang transportasi, mulai dari Pemerintah sebagai pengambil kebijakan, industri kendaraan bermotor (Gaikindo), serta PT PLN sebagai pemasok energi untuk EV dan calon pemakai EV,” papar Soedjono.

Baca juga :  Program Year end Sale, Suzuki Berikan Banyak Penawaran Menarik

Sebagai latar belakang, dalam forum UNFCCC (United Nation Convention on Climate Change) disepakati bahwa pemanfaatan energi fosil dalam sistem transportasi global harus dikurangi secara drastis, bahkan harus dihentikan.

Karena itu negara-negara penghasil kendaraan bermotor berbasis ICE dihimbau untuk berganti ke kendaraan berbasis EV (Electric Vehicle) dengan tenggang waktu bervariasi antara 2030-3040 tergantung dari kesiapan industri dan infrastruktur negara-negara tersebut.

Dalam diskusi kali ini memang masih terasa adanya dinamika antar pemangku kepentingan. Di satu sisi, pemerintah melalui Perpres ingin secepat mungkin agar Indonesia memulai langkah pasti dalam menatap era kendaraan listrik.

“Perkembangan terakhir dari rancangan Peraturan Presiden tentang percepatan kendaraan listrik. Dalam pembahasan terakhir kita sepakati bahwa ini fokusnya pada kendaraan listrik berbasis baterai. Jadi pemerintah akan mempercepat pengembangan kendaraan listrik ini dan ini sudah diatur dalam. Secepatnya, kalau bisa hari ini,” jelas Prof Satryo.

“Upaya pengembangan kendaraan listrik tidak hanya semata-mata mengurangi impor BBM, tidak hanya mengurangoi emisi, tapi juga meningkatkan kapasitas nasional dalam produksi kendaraan listrik. Tiga hal yang ini yang harus kita pegang,” tegasnya.

Baca juga :  MMKSI & Srikandi Group Resmikan Dealer Baru di Lenteng Agung

Namun begitu, perwakilan Gaikindo yang diwakilkan oleh Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum Gaikindo mengatakan sebelum memulai, ada baiknya pemerintah benar-benar merampungkan regulasi dan tidak semata-mata melupakan kendaraan bahan bakar fosil.

“Pada dasarnya kalau Gaikindo, anggota kita adalah pelaku indsutri yang punya principal dari bebragai negara seperti Jepang, Korea dan Eropa. Yang kami tungu adalah kebijakan ini seperti apa dan bagaimana. Di industri yang ada sekarang ini bagaimanapun juga memberikan lapangan pekerjaan formil. Lebih dari satu juta pekerja yang ada disana. Ini yang ingin kami jaga,” ujar Kukuh Kumara.

Kukuh tidak hanya menyoroti arah kebijakan, lebih dari itu ia melihat kalau harga kendaraan listrik masih begitu mahal dan masih jauh dari daya beli masyarakat Indonesia.

“Masalahnya apakah harga bisa terjangkau. Yang paling murah masih dikisaran 500-600 jutaan. Belum lagi masalah teknis lainnya, seperti Indonesia ini kan negara tropis tentunya akan mempengaruhi bateri kendaraan. Beda halnya selama ini kajian-kajian yang ada kebanyakan di negara-negara iklim dingin,” terang Kukuh.

Baca juga :  Akibat Covid-19, Jaguar Land Rover Stop Produksi di Inggris

Lebih lanjut, terkait dengan kendaraan listrik, PLN sendiri mengakui tidak punya masalah untuk mempersiapkan infrastruktur seperti stasiun pengisian baterai ataupun listrik. Bahkan saat ini, PLN sudah memiliki konsep spot pengisian baterai yang diberi nama EV Charger Station.

“Yang sekarang sudah tersedia ada 3 lokasi di Jakarta, dan 2 lokasi di Bali. Karena memang populasi kendaraan listrik masih banyak di dua kota ini. Tapi suka atau tidak suka tren electric vehicle adalah unstoppable karena terus naik signifkan. Survey kita populasi kendaraan EV akan mengalahkan kendaraan ICE di tahun 2050,” pungkas Zainal Arifin, Senior Manager of Technology Development and Standarization PT PLN. [PO/Rst]

Leave a Reply

Your email address will not be published.