“Tan Hana Dharma Mangrwa” Seni Instalasi di Kustomfest 2018

YOGYAKARTA – Gelaraan Kustomfest 2018 yang berlangsung di Yogyakarta, 6-7 Oktober 2018 pekan lalu tidak hanya menghadirkan deretan motor atau mobil kustom hasil kreasi builder Tanah Air, sesuai dengan tema yang diusung “Color of Difference”.

Direktur Kustomfest Lulut Wahyudi ingin pula menghadirkan warna berbeda dalam Kustomfest tahun ini, seperti dihadirkanya pesawat pertama karya anak bangsa pada gelaraan Kustomfest 2018.

Selain itu untuk memajukan karya seni dalam bidang lain pihak panitia peyelengara juga menghadirkan karya seni rupa instalasi dan visual.

Berkerjasama dengan brand helm asal Solo, Tropper Custom, Kustomfest 2018 mengangkat tema seni instalasi “Tan Hana Dharma Mangrwa” serta “Helmet Art Show” yang dihadirkan oleh para visual artis diantaranya, seperti Choirulfadh (Malang), Labib A Falahi (Solo), Rubseight (Jogya), Isafemlyd (jakarta), Blesmokie (Jakarta), Hari Merdeka (Jakarta) dan The Popo (Jakarta).

Baca juga :  Istri Sultan Hamengkubuwono Resmikan Balap Drag Bike di Yogyakarta

Sedangkan karya seni rupa instalasi Tan Hana Dharma Mangrwa, kolaborasi para artis dikomandoi oleh Ronny Rontok selaku Art Director, Djiwo (Philosophy Art), Nanang (Art & Desain), dan Dwi Wahyu Cahyono (Ligthning Design), tema dari seni instalasi ini merupakan kelanjutan dari semboyan bangsa Indonesia, “Bhineka Tunggal Ika.”

Kalimat Tan Hana Dharma Mangrwa, merupakan kutipan dari sebuah kakawin (puisi) Jawa Kuno yaitu kakawin “Sutasoma,” semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Mpu Tantular, sang maha cendekia kerajaan Majapahit dalam karyanya berjudul Sutasoma memang tidak memisahkan dua kalimat ini.

Baca juga :  Kustomfest 2018 Ditutup dengan Meriah, "Belo Negoro" Diraih Mahasiswa Aceh

Dihadirkanya seni instalasi Tan Hana Dharma Mangrwa yang merupakan kelanjutan kata dari Bhinneka Tunggal Ika, agar dimaknai, meskipun berbeda – beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetaplah dalam sutu kesatuaan keluarga besar bangsa Indonesia, terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

“Kita ingin ingatkan Indonesia adalah bangsa besar yang dibangun atas dasar perbedaan dan kami ingin mengingatkan mulai dari anak-anak kustom. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan tapi hal indah dan disyukuri, Color of Difference,” ujar Lulut Wahyudi, Direktur Kustomfest.

Konsep inilah yang ingin ditekankan oleh Lulut, berharap agar kekuatan tema warna perbedaan mampu menginspirasi banyak anak muda Indonesia untuk berkreasi sekaligus memaknai lebih dalam perbedaan di negara ini.

Baca juga :  Street Racing & Elegan Dominasi Intersport Auto Show Seri Kota Jogja

Seperti salah satu pendiri bangsa Moh.Yamin yang mengusulkan kepada Soekarno agar semboyan Bhinneka Tunggal Ika diadopsi menjadi semboyan Negara dalam pembahasan rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). [PO/Ajr]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here